Kenapa Makanan Organik Lebih Mahal, Apa Sebabnya?



Pola makan dengan bahan makanan organik semakin meningkat seiring dengan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Sebab, selain dianggap bermanfaat bagi kesehatan, pola makan tanpa produk hewani atau vegan juga disebut menghasilkan jejak karbon paling minim. Co-founder and Managing Director Burgreens, Helga Angelina, dalam paparannya menjelaskan, seorang pecinta daging akan menghasilkan 3,3 Karbon Dioksida per 2.600 kilo kalori dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Sementara pelaku vegan rata-rata menghasilkan hanya 1,5 Karbon Dioksida per jumlah kalori yang sama.

Namun, tak sedikit orang yang menilai harga produk organik terlalu mahal untuk dikonsumsi sehari-hari. Helga tak menampik hal tersebut. Menurutnya, harga produk organik memang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat produk sejenis yang non-organik. " Organik memang sayangnya sekarang seperti hanya affordable untuk kelas menengah ke atas karena demand belum banyak, supply juga terbatas." Hal itu diungkapkan oleh Helga seusai diskusi bertema perubahan iklim di Pusat Kebudayaan Italia di Jakarta.

Proses produksi pengaruhi harga jual Namun, hal itu dikarenakan perbedaan proses produksi yang cukup besar. Apa sebabnya? Helga mencontohkan para petani yang memproduksi bahan makanan untuk Burgreens. Menurutnya, pola kerja petani tanaman organik dan biasa sangat berbeda. Para petani tanaman organik harus bekerja setiap hari. Mereka juga harus secara manual menghilangkan hama yang mengganggu hasil tanam mereka. "Kalau tidak pakai pestisida, ketika ada ulat mereka (harus hilangkan) pakai tangan satu persatu, mereka harus ke lapangan setiap hari jadi berbeda dengan conventional farm," ucapnya. Sementara para petani yang menggunakan pestisida dalam menanam, tidak perlu setiap hari berkunjung ke lahan tanamnya. 

Mereka hanya perlu datang beberapa kali, yaitu saat menanam, memberi pestisida atau pupuk kimia, lalu datang lagi saat memanen. "Man hour-nya berbeda organik dan non-organik," ucapnya. Hal lainnya yang membuat bahan makanan organik lebih mahal adalah karena dianggap lebih berkelanjutan dan tidak merusak tanah. Tanah yang ditanam tanaman organik, menurut Helga, makin lama akan semakin kaya nutrisi. Sementara tanah yang ditanami tanaman dengan bahan kimia akan cenderung lebih rentan rusak. "Sehingga orang akan harus terus buka lahan. Lahan kan butuh resource, kalau lahan dibuka terus lama-lama lahan habis, lalu gimana?" "Jadi, organik itu renewable farming," kata Helga. 

Sudah Pasti Lebih Sehat? Tubuh terasa bersih dan sehat Bagi manusia yang mengonsumsi makanan organik, tubuh juga akan terasa lebih bersih dan sehat. Sebab, menurut perempuan yang telah menjadi vegetarian selama 14 tahun itu, sayuran yang dikonsumsi juga akan lebih bagus dan berkualitas. "Nutrition profile-nya memang lebih berkualitas dibanding ya chemical. Yang terasa tubuh sangat clean. Kita kan mengurangi residu toksik yang berbahaya buat tubuh. Seperti pestisida dan lainnya," ucap dia. Namun, kamu tak perlu khawatir jika belun bisa mengonsumsi makanan organik setiap hari. Kamu bisa mulai dengan mengonsumsi produk-produk nabati lebih banyak daripada produk hewani. "Produk nabati itu lebih murah lho dari produk hewani di pasaran. Substitusinya sangat murah. Seperti tempe, kacang merah, kacang hijau," katanya. Di samping itu, menghindari jika ada bahan-bahan kimia pada bahan makanan yang kita konsumsi, Helga menyarankan untuk mencucinya dengan cuka apel atau garam laut untuk mengurangi residunya hingga 95 persen. "Cuci di air mengalir, rendam pakai air dengan sedikit cuka apel atau sea salt. Jadi selalu ada cara yang lebih bagus, lebih sehat. Tapi jika punya spending power, aku encourage orang untuk beli organik," kata Helga.

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==